Home antivirus 2 Jenis Obat ini favipiravir dan remdesivir sudah digunakan untuk menyembuhan pasien covid-19

2 Jenis Obat ini favipiravir dan remdesivir sudah digunakan untuk menyembuhan pasien covid-19

408
0
SHARE
2 Jenis Obat ini favipiravir dan remdesivir sudah digunakan untuk menyembuhan pasien covid-19

Obat influenza buatan perusahaan foto Fuji Film diyakini efektif dalam menekan virus Corona. Obat sejenis Avigan yang diproduksi Fuji Film Toyama Chemical sejak 2014 telah diuji oleh peneliti China dan terbukti efektif.

Perhimpunan Dokter Spesialis Farmakologi dan Klinik Indonesia (PERDAFKI) merilis kajian farmakoterapi pengobatan COVID-19 pada 2 April 2020.

Ada 4 obat yang dibahas, yakni avigan (favipiravir), klorokuin, hidroksiklorokuin, tamiflu (oseltamivir). Dalam kajian edisi perdana ini dijelaskan bahwa favipiravir, klorokuin, hidroksiklorokuin secara mekanisme kerjanya dimungkinkan dapat bermanfaat untuk terapi COVID-19, terkecuali oseltamivir yang merupakan penghambat enzim neuraminidase virus dimana virus SARS-CoV-2 tidak memiliki enzim tersebut, sehingga kemungkinan tidak bermanfaat untuk pengobatan COVID-19. Namun semua keempat obat ini masih dilakukan uji klinik untuk memastikannya.

Ketua PERDAFKI, Dr. Instiaty, Sp.FK, PhD, menjelaskan bahwa SARS-CoV-2 (Severe acute respiratory syndrome-corona virus-2), merupakan strain virus corona baru penyebab infeksi akut saluran napas

Sejumlah obat, baik obat lama yang sudah digunakan untuk indikasi lain, maupun yang statusnya masih obat uji, sedang diteliti di berbagai belahan dunia. Dalam menyimpulkan efektivitas dan keamanan suatu obat, perlu dicermati tingkat bukti yang sudah tersedia. Baku emas untuk pembuktian efektivitas dan keamanan suatu obat adalah randomized controlled trial (RCT), dan sampai tulisan ini dibuat, laporan hasil RCT obat-obat yang digunakan untuk COVID-19 masih sangat terbatas, karena umumnya penelitiannya masih berjalan.

Bukti terbatas efektivitas dan keamanan obat-obat tersebut didapat dari uji pendahuluan pada sejumlah kecil pasien, sehingga diperlukan kehati-hatian dalam menerapkannya di lapangan, dengan menimbang betul manfaat dan risikonya. Mengingat pentingnya informasi terkait obat-obat yang digunakan dalam tatalaksana COVID 19,

PERDAFKI bekerja sama dengan Program Pendidikan Dokter Spesialis Farmakologi Klinik FKUI menyusun rangkuman informasi terkait aspek farmakologi dan penggunaan obat dalam tatalaksana COVID-19. Kajian obat ini mencakup favipiravir, klorokuin, hidroksiklorokuin, dan oseltamivir, dan merupakan bagian pertama dari beberapa seri. Kajian bersifat dinamis, dan dapat diperbarui sesuai perkembangan pengetahuan dan hasil studi terkini.

Uji klinik penggunaan favipiravir pada COVID- 19

Studi-studi favipiravir yang mencakup total 320 pasien COVID-19 di China diklaim membuktikan efikasi dan keamanan favipiravir, akan tetapi laporan lengkap hasil penelitiannya belum dipublikasi. Salah satu dari studi tersebut, suatu open label non randomized controlled study, dilaksanakan di Shenzen China pada 80 pasien COVID-19 (35 favipiravir dan 45 lopinavir/ritonavir).5 Selain mendapat favipiravir, subyek pada kedua kelompok mendapat interferon alfa 1b 5 juta unit aerosol inhalasi dua kali sehari.

Favipiravir diberikan peroral selama 14 hari dengan dosis hari pertama 1600 mg dua kali sehari, dilanjutkan 600 mg dua kali sehari ( hari ke-2 sampai ke-14). Hasilnya, viral clearance time lebih pendek pada kelompok favipiravir (median 4 hari) dibandingkan pada kelompok lopinavir/ritonavir 11 hari). Tidak ada efek samping serius pada kelompok favipiravir, dan jumlah kejadian tidak diinginkan lebih sedikit pada kelompok favipiravir, berupa diare, gangguan fungsi hati dan gangguan nutrisi.5 Pasien dengan penyakit respirasi berat dan memerlukan perawatan ICU dieksklusi dalam studi tersebut, sehingga efikasi dan keamanan favipiravir pada kelompok ini perlu diteliti lebih lanjut. Akan tetapi publikasi hasil penelitian ini (Cai Q, et al)5 baru-baru ini ditarik atas permintaan penulis/editor (https://www.sciencedirect.com/science/artic le/pii/S2095809920300631)

sumber : farmasetika.com

Video Terkait: